Kamis, 19 Oktober 2017

MAKALAH:BENTUK-BENTUK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)




BENTUK-BENTUK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)


LOGO



MAKALAH
Disusun oleh:
Nison Kum
NIM: 201720618



SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SIMPSON
Ungaran
2017
  



DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN------------------------------------------------------------------------------1
A.    Latar Belakang------------------------------------------------------------------------------------------1
B.     Rumusan Masalah-------------------------------------------------------------------------------------2
C.    Tujuan Penulisan--------------------------------------------------------------------------------------2
BAB II. PEMBAHASAN-----------------------------------------------------------------------------3
A.   Pengertian Dan Tujuan Pak Di Indonesia--------------------------------------------------------3
B.   Bentuk-Bentuk Pendidikan Agama Kristen Di Indonesia-------------------------------------4
BAB III. PENUTUP-----------------------------------------------------------------------------------9
A.   Kesimpulan---------------------------------------------------------------------------------------------9
B.   Saran-----------------------------------------------------------------------------------------------------9
DAFTAR PUSTAKA-----------------------------------------------------------------------------10








BAB I
PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG
Andar Ismail, dalam bukunya menjelaskan bahwa “Pendidikan sudah menjadi bagian dari hidup dan panggilan gereja sejak awal, namun sebuah ilmu atau disiplin ilmiah Pendidikan Agama Kristen (PAK) baru diperkenalkan kepada gereja-gereja di Indonesia pada tahun 1955.”[1] Harianto dalam bukunya menyatakan bahwa “PAK itu penting karena tiga prinsip dasar utama dalam Pendidikan Agama Kristen yaitu; meningkatkan pengetahuan akan firman Allah, memampukan peserta didik menyatakan keberadaan dirinya dalam hidup sehari-hari, serta memampukan mereka untuk dapat hidup bersama dengan orang-orang yang ada disekitarnya.”[2] Kemudian tim kerja BPK & Pokja PGI, dalam bukunya menjelaskan bahwa “Pusat pendidikan PAK ada tiga, yaitu; Keluarga, masyarakat (jemaat), dan sekolah. Konteks PAK adalah kehidupan atau masyarakat yang majemuk, di era teknologi dan informasi yang begitu pesat dengan dampak positif dan negatifnya, perkembangan ilmu pengetahuan yang membawa perubahan pandangan termasuk norma dan nilai. Dalam dunia teologi dan agama juga terjadi pergeseran karena penemuan baru dibidang arkeologi khususnya ditanah Palestina dan sekitarnya, serta kesadaran baru untuk bersikap kritis terhadap dogma dan mencari kebenaran kepada teks Alkitab kembali.”[3] Robert R. Boehlke, mengutip pernyataan Martin Luther, dalam bukunya menjelaskan bahwa “Pendidikan perlu memperhatikan penanaman nilai-nilai luhur sebagai unsur utama dalam aspek afektif. Nilai-nilai luhur kehidupan manusia seperti kasih, kejujuran, adil, disiplin, toleransi, menghargai, bertanggungjawab, dan hidup dalam moralitas yang baik, harus senantiasa mewarnai corak pendidikan masa kini. Hal ini agar setiap peserta didik hidup dalam nilai-nilai yang sudah ditanamkan, sehingga tercipta generasi yang memiliki tanggung jawab moral yang baik. Jika hal ini terjadi maka berbagai persoalan dalam kemasyarakatan yang seringkali menimbulkan kekacauan akan dapat diminimalisir.”[4]

B.           RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penulisan karya ilmiah ini adalah memaparkan apa saja yang menjadi bentuk-bentuk PAK di Indonesia.

C.           TUJUAN PENULISAN
Tujuan menulis karya ilmiah ini adalah memaparkan bentuk-bentuk PAK di Indonesia.






BAB II
PEMBAHASAN

A.           PENGERTIAN DAN TUJUAN PAK DI INDONESIA
§     Pengertian Pendidikan Agama Kristen (PAK) Di Indonesia
Definisi sederhana PAK menurut Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd. “PAK adalah Pendidikan yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan dengan pimpinan kuasa Roh Kudus untuk memimpin orang pada Kristus dan mendewasakannya dalam Kristus.”[5]
Tholib Kasan, dalam bukunya menjeleskan bahwa “Pada hakikatnya dalam memahami pengertian pendidikan, terlebih dahulu perlu diketahui dua (2) istilah dalam dunia pendidikan yaitu Pedagogi yang berarti “pendidikan” dan Pedagogia yang artinya “Ilmu pendidikan”. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “Pedagogia” (Paedos dan Agoge) yang berarti “saya membimbing, memimpin anak.”[6]
§     Tujuan PAK Di Indonesia
Pendidikan adalah suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Tujuan pendidikan akan menentukan ke arah mana peserta didik itu dibawa. Secara umum tujuan pendidikan membantu perkembangan anak untuk mencapai tingkat kedewasaan, baik kedewasaan biologis maupun kedewasaan pedagogis.[7]

Ada pun, Tujuan Pendidikan Agama Kristen di Indonesia menurut
(Roma 8:29) “Pendidikan Agama Kristen di sekolah Kristen mengajarkan setiap orang Kristen untuk mengenal Tuhan Yesus dengan dasar iman yang benar. Proses belajar mengajar yang alkitabiah, dengan kuasa Roh Kudus dan berpusatkan pada Kristus. Pendidikan Agama Kristen juga merupakan suatu usaha untuk membimbing setiap pribadi bertumbuh sesuai dengan dasar kristen melalui cara-cara mengajar yang cocok agar mengetahui dan mengalami maksud dan rencana Allah.”[8]
B.           BENTUK-BENTUK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI INDONESIA
Suatu bidang ilmu pastilah memiliki bentuk-bentuk dalam penyelenggaraannya. Dalam Pendidikan Agama Kristen sendiri ada beberapa metode yang kita pakai seperti Metode melalui jalur Keluarga, Gereja dan, kepada Anak-anak, PAK di sekolah.
Dalam PAK ada beberapa bentuk, diantaranya :
§     PAK Dalam Keluarga Kristen
Keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan utama, dengan orang tua sebagai pendidik. Lama sebelum ada pendidikan formal sekolah, keluarga sudah ada. Tanggung jawab orang tua sebagai pendidik, khususnya dalam hal iman atau agama tercatat dalam Perjanjian Lama (Ulangan 6), namun tanggung jawab ini umumnya diahlihkan kepada guru agama di sekolah maupun jemaat.
Keluarga Kristen adalah pemberian Tuhan yang tak ternilai harganya keluarga Kristenlah yang memang peranan yang terpenting dalam PAK, bahkan lebih penting pula dari segala jalan lain yang dipakai gereja untuk pendidikan itu. Baik anak-anak, maupun orang tuanya memperoleh berkat rohani besar di dalam keluarga yang dipimpin oleh Roh Tuhan. Pendidikan agama dalam keluarga merupakan dasar bagi seluruh pendidikan lainnya dalam umat Tuhan pada zaman Perjanijan Lama. Dan juga, Gereja mengajar melalui partisipasi keluarga-keluarga dalam persekutuan yang beribadah. Kini keluarga semakin mendapat perhatian dalam gereja, dan banyak penelitian telah diterbitkan dalam banyak buku tentang pokok tersebut. Di dalam hubungan antara keluarga dan gereja terdapat tindakan ganda: tindakan kesaksian keluarga melalui ibadah bersama, dan tindakan Roh Kudus dalam kehidupan keluarga yang menucul dari ibadah tersebut. “Horace Bushnell” berpendapat bahwa, suatu kesatuan organis antara kehidupan keluarga di gereja dan keluarga-keluarga yang terikat dalam perjanjian di Israel.   
Dalam perjanjian lama kita dapat melihat keluarga yang dapat kita mengambil contoh dari keluarga-keluarga para Patriakh (bapa-bapa leluhur). Seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Keluarga-keluarga ini besar pengaruhnya terhadap hidup segala keturunan dan anggota keluarganya. Demikianlah rumah tangga Kristen dapat merupakan bayangan dari gereja, bahkan dari kerajaan Allah.[9]

§  PAK Di Gereja
Di lingkungan Gereja memang sudah tersedia pedoman katekisasi namun belum terlaksana dengan baik. Dalam gereja ada beberapa bentuk pengajaran PAK, salah satunya yang paling menonjol adalah Katekisasi Sidi. Katekisasi Sidi adalah salah satu bentuk dari beberapa katekisasi yang ada. Namun pada zaman ini ada bahaya-bahaya katekisasi sidi yang belakangan ini sering muncul dalam kehidupan jemaat di antaranya:
a. Ketekisasi hanya dituruti para jemaat oleh sebab adat gereja menuntutnya.
b. peneguhan sidi itu sendiri saja yang menjadi tujuan dan pegangan seterusnya bagi calon-calon anggota Sidi jemaat.
c. pelajaran yang diberikan di katekisasi dianggap sudah cukup untuk seleruh hidup kemudian.
d. katekisasi gampang cendurung pada suasana sekolah. Para pelajarnya memang datang untuk belajar, tetapi jangan hendaknya pengajaran itu bersifat intelektualistis atau dengan kata lain terlalu menitik beratkan pengetahuan otak. Dalam katekisasi hendaknya pendeta dengan para calon Sidi jemaat bersifat ramah tamah bagaikan seorang bapa yang bercakap-cakap dengan anaknya, hubungan mereka harus mesra dan secara perseorangan. Jangan kita merasakan puas mengajar di depan kelask atekisasi saja, melainkan seharusnya kita mencari atau mengadakan kesempatan untuk bicara secara pribadi dengan masing-masing calon sendiri, karena mereka tidak boleh diterima secara otomatis saja menjadi anggota penuh dalam gereja, biarpun mereka sudah mengikuti pelajaran katekisasi dengan setia.[10]

§  PAK Di Sekolah
PAK di sekolah adalah salah satu bentuk pendidikan agama Kristen di samping katekisasi sidi, sekolah Minggu, dan PWG (pembinaan warga gereja), sehingga seharnya juga merupakan tanggung jawab gereja. Di Indonesia pendidikan agama dilihat sebagai bagian integral yang hakiki bagi pembangunan bangsa dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Akihbatnya gereja-gereja sering tidak memperdulikan penyelenggaraan PAK di sekolah-sekolah, terutama di sekolah negeri atau swasta yang non-Kristen, karena menganggap itu merupakan wewenang serta tanggung jawab sekolah atau pemerintah, bukan Gereja.
Banyak gereja yang belum memahami hakikat PAK di sekolah atau menyadari tanggung jawabnya atas PAK di sekolah. Hal ini tampak dalam strategi pelayannya, khususnya di bidang pendidikan atau pembinaan iman jemaat, yang umumnya belum mencantumkan PAK di sekolah dalam rencana program.
Dalam PAK di sekolah negeri mempunyai faedah dan bahayanya seperti:
a.    Dengan jalan ini gereja dapat menyampaikan Injil kepada banyak anak-anak dan pemuda-pemuda yang sukar dikumpulkan dalam PAK gereja sendiri, seperti dalam sekolah minggu atau katekisasi.
b.    Anak-anak yang menerima PAK di sekolah, akan merasa bahwa pendidikan umum dan agama itu bukan dua hal yang tak ada hubungannya, melainkan sebaliknya harus berjalan bersama-sama.
c.    Jikalau gereja tak mampu membiayai pekerjaan sekolah minggu dan sekolah Kristen secara besar-besaran, maka PAK di sekolah negeri itu banyak menolong gereja yang lemah secara keuangan.
d.    Dan akhirnya ada faedahnya bahwa dengan termasuknya pengajaran agama dalam rencana pelajaran umum, maka agama itu dengan sendirinya mulai merupakan suatu bagian mutlak dari kebudayaan segenap rakyat.[11]
§  Pak Kepada Anak-Anak
Sebelum kita memulai membahas pokok ini, marilah kita lebih dahulu memperhatikan apa yang tertulis dalam Perjanjian Baru, dalam dua bagian yang pendek tetapi penting isinya: Yang pertama “Hai anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu, ini adalah suatu perintah yang sangat penting, seperti nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasehat Tuhan.” (Efesus 6:1-4).Yang kedua “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.”
(Markus 10:13-16).[12]

                                                                 BAB III                             
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Pendidikan Agama Kristen jelas mempunyai ragam bentuk yang ada, baik lingkungan keluarga, gereja, maupun sekolah. Bentuk PAK pada umumnya adalah sangat penting, mempunyai saling keterkaitan baik keluarga gereja, maupun sekolah. Penggunaan bentuk-bentuk PAK harus diseimbangkan. Dalam bentuk PAK di dalam keluarga memiliki peranan yang penting bagi seseorang karena lingkungan keluargalah yang pertama mengajarkan tentang PAK itu sendiri. Tetapi gereja juga merupakan salah satu bentuk PAK yang penting bukan hanya sekedar mengikuti pengajaran gereja, tetapi penerapannya harus terealisasi dalam kehidupan seseorang, begitupun dalam lingkungan sekolah PAK memiliki peranan yang cukup penting.
Implikasinya bagi kita sekarang ini adalah , kita harus mampu menyelaraskan setiap bentuk PAK yang ada dalam kehidupan kita.
B.   SARAN
Akhirnya dari pengetahuan (atau tujuannya) adalah untuk memperbaiki kerusakan yang dilakukan orang tua pertama kita dengan kembali mengenal atau mengetahui Allah dengan benar. Maka dengan demikian, dari pengetahuan baru itu, kita akan sanggup mengasihi Dia, menjadi serupa seperti Dia, dengan segala kemampuan terbaik kita, yaitu memiliki nilai-nilai sejati dalam jiwa kita. Nilai-nilai sejati ini terkait erat dengan iman anugrah surgawi. Hal inilah yang menghasilkan kesempurnaan yang tertinggi.





DAFTAR PUSTAKA
[1]. Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2014)
[2]. Harianto GP, Teologi PAK. (Surabaya: STT Bethany, 2014)
[3]. Tim Kerja BPK & Pokja PGI. Allah Memelihara Ciptaan-Nya. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)
[4]. Robert R. Boehlke ( Jakarta BPK Gunung Mulia, 2005)
[5]. Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd.
[6]. Tholib Kasan, Dasar-Dasar Pendidikan (Jakarta Timur, 2009)
[7]. Ibid, (Jakarta Timur, 2009)
[8]. Ibid, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)
[9]. Homrighausen & Dr I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984)
[10]. Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984)
[11]. Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984)                   
[12]. Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984)



[1]Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2014), hal 1

[2]Harianto GP, Teologi PAK. (Surabaya: STT Bethany, 2014), hal 1

[3]Tim Kerja BPK & Pokja PGI. Allah Memelihara Ciptaan-Nya. (Jakarta: BPK Gunung     Mulia, 2009), hal 76.
4Robert R. Boehlke ( Jakarta BPK Gunung Mulia, 2005), hal 342

5Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd.

6Tholib Kasan, Dasar-Dasar Pendidikan (Jakarta Timur, 2009), hal 7

7Ibid, (Jakarta Timur, 2009), hal 12

[8]Ibid, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal 76

[9]Homrighausen & Dr I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984), hal 144-147
[10]Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984), hal 126-128
[11]Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984, hal 168-169

[12] Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984, hal 133.



2 komentar: