BENTUK-BENTUK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)

MAKALAH
Disusun oleh:
Nison Kum
NIM: 201720618
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SIMPSON
Ungaran
2017
DAFTAR
ISI
BAB
I. PENDAHULUAN------------------------------------------------------------------------------1
A. Latar Belakang------------------------------------------------------------------------------------------1
B. Rumusan
Masalah-------------------------------------------------------------------------------------2
C. Tujuan
Penulisan--------------------------------------------------------------------------------------2
BAB II. PEMBAHASAN-----------------------------------------------------------------------------3
A.
Pengertian Dan Tujuan Pak Di
Indonesia--------------------------------------------------------3
B.
Bentuk-Bentuk Pendidikan Agama
Kristen Di Indonesia-------------------------------------4
BAB
III. PENUTUP-----------------------------------------------------------------------------------9
A.
Kesimpulan---------------------------------------------------------------------------------------------9
B.
Saran-----------------------------------------------------------------------------------------------------9
DAFTAR PUSTAKA-----------------------------------------------------------------------------10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Andar
Ismail, dalam bukunya menjelaskan bahwa “Pendidikan sudah menjadi bagian dari
hidup dan panggilan gereja sejak awal, namun sebuah ilmu atau disiplin ilmiah
Pendidikan Agama Kristen (PAK) baru diperkenalkan kepada gereja-gereja di
Indonesia pada tahun 1955.”[1]
Harianto dalam bukunya menyatakan bahwa “PAK itu penting karena tiga prinsip
dasar utama dalam Pendidikan Agama Kristen yaitu; meningkatkan pengetahuan akan
firman Allah, memampukan peserta didik menyatakan keberadaan dirinya dalam
hidup sehari-hari, serta memampukan mereka untuk dapat hidup bersama dengan
orang-orang yang ada disekitarnya.”[2]
Kemudian tim kerja BPK &
Pokja PGI, dalam bukunya menjelaskan bahwa “Pusat pendidikan PAK ada
tiga, yaitu; Keluarga, masyarakat (jemaat), dan sekolah. Konteks PAK adalah
kehidupan atau masyarakat yang majemuk, di era teknologi dan informasi yang
begitu pesat dengan dampak positif dan negatifnya, perkembangan ilmu
pengetahuan yang membawa perubahan pandangan termasuk norma dan nilai. Dalam
dunia teologi dan agama juga terjadi pergeseran karena penemuan baru dibidang
arkeologi khususnya ditanah Palestina dan sekitarnya, serta kesadaran baru
untuk bersikap kritis terhadap dogma dan mencari kebenaran kepada teks Alkitab
kembali.”[3] Robert R. Boehlke, mengutip pernyataan Martin Luther, dalam
bukunya menjelaskan bahwa “Pendidikan perlu memperhatikan penanaman
nilai-nilai luhur sebagai unsur utama dalam aspek afektif. Nilai-nilai luhur
kehidupan manusia seperti kasih, kejujuran, adil, disiplin, toleransi,
menghargai, bertanggungjawab, dan hidup dalam moralitas yang baik, harus
senantiasa mewarnai corak pendidikan masa kini. Hal ini agar setiap peserta
didik hidup dalam nilai-nilai yang sudah ditanamkan, sehingga tercipta generasi
yang memiliki tanggung jawab moral yang baik. Jika hal ini terjadi maka
berbagai persoalan dalam kemasyarakatan yang seringkali menimbulkan kekacauan
akan dapat diminimalisir.”[4]
B.
RUMUSAN
MASALAH
Rumusan masalah dalam penulisan karya ilmiah
ini adalah memaparkan apa saja yang menjadi bentuk-bentuk PAK di Indonesia.
C.
TUJUAN
PENULISAN
Tujuan menulis karya ilmiah ini adalah
memaparkan bentuk-bentuk PAK di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
DAN TUJUAN PAK DI INDONESIA
§ Pengertian Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Di Indonesia
Definisi sederhana PAK menurut Ev. I Putu Ayub
Darmawan, M.Pd. “PAK adalah Pendidikan yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada
Kristus, dan dengan pimpinan kuasa Roh Kudus untuk memimpin orang pada Kristus
dan mendewasakannya dalam Kristus.”[5]
Tholib Kasan, dalam bukunya menjeleskan bahwa
“Pada hakikatnya dalam memahami pengertian pendidikan, terlebih dahulu perlu
diketahui dua (2) istilah dalam dunia pendidikan yaitu Pedagogi yang berarti
“pendidikan” dan Pedagogia yang artinya “Ilmu pendidikan”. Istilah ini berasal
dari bahasa Yunani “Pedagogia” (Paedos dan Agoge) yang berarti “saya
membimbing, memimpin anak.”[6]
§ Tujuan PAK Di Indonesia
Pendidikan adalah suatu proses untuk mencapai
tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Tujuan pendidikan akan menentukan ke
arah mana peserta didik itu dibawa. Secara umum tujuan pendidikan membantu
perkembangan anak untuk mencapai tingkat kedewasaan, baik kedewasaan biologis
maupun kedewasaan pedagogis.[7]
Ada pun, Tujuan Pendidikan Agama Kristen di Indonesia menurut
(Roma 8:29) “Pendidikan Agama Kristen di sekolah Kristen mengajarkan setiap orang
Kristen untuk mengenal Tuhan Yesus dengan dasar iman yang benar. Proses belajar
mengajar yang alkitabiah, dengan kuasa Roh Kudus dan berpusatkan pada Kristus.
Pendidikan Agama Kristen juga merupakan suatu usaha untuk membimbing setiap
pribadi bertumbuh sesuai dengan dasar kristen melalui cara-cara mengajar yang
cocok agar mengetahui dan mengalami maksud dan rencana Allah.”[8]
B.
BENTUK-BENTUK
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI INDONESIA
Suatu bidang ilmu pastilah memiliki
bentuk-bentuk dalam penyelenggaraannya. Dalam Pendidikan Agama Kristen sendiri
ada beberapa metode yang kita pakai seperti Metode melalui jalur Keluarga,
Gereja dan, kepada Anak-anak, PAK di sekolah.
Dalam PAK ada beberapa bentuk, diantaranya :
§ PAK
Dalam Keluarga Kristen
Keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama
dan utama, dengan orang tua sebagai pendidik. Lama sebelum ada pendidikan
formal sekolah, keluarga sudah ada. Tanggung jawab orang tua sebagai pendidik,
khususnya dalam hal iman atau agama tercatat dalam Perjanjian Lama (Ulangan 6),
namun tanggung jawab ini umumnya diahlihkan kepada guru agama di sekolah maupun
jemaat.
Keluarga Kristen adalah pemberian Tuhan yang
tak ternilai harganya keluarga Kristenlah yang memang peranan yang terpenting
dalam PAK, bahkan lebih penting pula dari segala jalan lain yang dipakai gereja
untuk pendidikan itu. Baik anak-anak, maupun orang tuanya memperoleh berkat
rohani besar di dalam keluarga yang dipimpin oleh Roh Tuhan. Pendidikan agama dalam
keluarga merupakan dasar bagi seluruh pendidikan lainnya dalam umat Tuhan pada
zaman Perjanijan Lama. Dan juga, Gereja mengajar melalui partisipasi
keluarga-keluarga dalam persekutuan yang beribadah. Kini keluarga semakin
mendapat perhatian dalam gereja, dan banyak penelitian telah diterbitkan dalam
banyak buku tentang pokok tersebut. Di dalam hubungan antara keluarga dan
gereja terdapat tindakan ganda: tindakan kesaksian keluarga melalui ibadah
bersama, dan tindakan Roh Kudus dalam kehidupan keluarga yang menucul dari
ibadah tersebut. “Horace Bushnell” berpendapat bahwa, suatu kesatuan organis
antara kehidupan keluarga di gereja dan keluarga-keluarga yang terikat dalam
perjanjian di Israel.
Dalam perjanjian lama kita dapat melihat
keluarga yang dapat kita mengambil contoh dari keluarga-keluarga para Patriakh
(bapa-bapa leluhur). Seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Keluarga-keluarga ini
besar pengaruhnya terhadap hidup segala keturunan dan anggota keluarganya. Demikianlah
rumah tangga Kristen dapat merupakan bayangan dari gereja, bahkan dari kerajaan
Allah.[9]
§ PAK Di
Gereja
Di lingkungan Gereja memang sudah tersedia
pedoman katekisasi namun belum terlaksana dengan baik. Dalam gereja ada
beberapa bentuk pengajaran PAK, salah satunya yang paling menonjol adalah
Katekisasi Sidi. Katekisasi Sidi adalah salah satu bentuk dari beberapa
katekisasi yang ada. Namun pada zaman ini ada bahaya-bahaya katekisasi sidi
yang belakangan ini sering muncul dalam kehidupan jemaat di antaranya:
a.
Ketekisasi hanya dituruti para jemaat oleh sebab adat gereja menuntutnya.
b.
peneguhan sidi itu sendiri saja yang menjadi tujuan dan pegangan seterusnya
bagi calon-calon anggota Sidi jemaat.
c.
pelajaran yang diberikan di katekisasi dianggap sudah cukup untuk seleruh hidup
kemudian.
d.
katekisasi gampang cendurung pada suasana sekolah. Para pelajarnya memang
datang untuk belajar, tetapi jangan hendaknya pengajaran itu bersifat
intelektualistis atau dengan kata lain terlalu menitik beratkan pengetahuan
otak. Dalam katekisasi hendaknya pendeta dengan para calon Sidi jemaat bersifat
ramah tamah bagaikan seorang bapa yang bercakap-cakap dengan anaknya, hubungan
mereka harus mesra dan secara perseorangan. Jangan kita merasakan puas mengajar
di depan kelask atekisasi saja, melainkan seharusnya kita mencari atau
mengadakan kesempatan untuk bicara secara pribadi dengan masing-masing calon
sendiri, karena mereka tidak boleh diterima secara otomatis saja menjadi
anggota penuh dalam gereja, biarpun mereka sudah mengikuti pelajaran katekisasi
dengan setia.[10]
§ PAK Di
Sekolah
PAK di sekolah adalah salah satu bentuk
pendidikan agama Kristen di samping katekisasi sidi, sekolah Minggu, dan PWG
(pembinaan warga gereja), sehingga seharnya juga merupakan tanggung jawab
gereja. Di Indonesia pendidikan agama dilihat sebagai bagian integral yang
hakiki bagi pembangunan bangsa dan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Akihbatnya gereja-gereja sering tidak memperdulikan penyelenggaraan PAK di
sekolah-sekolah, terutama di sekolah negeri atau swasta yang non-Kristen,
karena menganggap itu merupakan wewenang serta tanggung jawab sekolah atau
pemerintah, bukan Gereja.
Banyak gereja yang belum memahami hakikat PAK
di sekolah atau menyadari tanggung jawabnya atas PAK di sekolah. Hal ini tampak
dalam strategi pelayannya, khususnya di bidang pendidikan atau pembinaan iman
jemaat, yang umumnya belum mencantumkan PAK di sekolah dalam rencana program.
Dalam PAK di sekolah negeri mempunyai faedah
dan bahayanya seperti:
a. Dengan
jalan ini gereja dapat menyampaikan Injil kepada banyak anak-anak dan
pemuda-pemuda yang sukar dikumpulkan dalam PAK gereja sendiri, seperti dalam
sekolah minggu atau katekisasi.
b. Anak-anak
yang menerima PAK di sekolah, akan merasa bahwa pendidikan umum dan agama itu
bukan dua hal yang tak ada hubungannya, melainkan sebaliknya harus berjalan
bersama-sama.
c. Jikalau
gereja tak mampu membiayai pekerjaan sekolah minggu dan sekolah Kristen secara
besar-besaran, maka PAK di sekolah negeri itu banyak menolong gereja yang lemah
secara keuangan.
d. Dan
akhirnya ada faedahnya bahwa dengan termasuknya pengajaran agama dalam rencana
pelajaran umum, maka agama itu dengan sendirinya mulai merupakan suatu bagian
mutlak dari kebudayaan segenap rakyat.[11]
§ Pak
Kepada Anak-Anak
Sebelum kita memulai membahas pokok ini,
marilah kita lebih dahulu memperhatikan apa yang tertulis dalam Perjanjian
Baru, dalam dua bagian yang pendek tetapi penting isinya: Yang pertama “Hai anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena
haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu, ini adalah suatu perintah yang
sangat penting, seperti nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan
panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam
hati anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasehat Tuhan.” (Efesus
6:1-4).Yang kedua “Lalu orang membawa
anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi
murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia
marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku,
jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang
empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak
menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke
dalamnya. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas
mereka Ia memberkati mereka.”
(Markus 10:13-16).[12]
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pendidikan Agama Kristen jelas mempunyai ragam
bentuk yang ada, baik lingkungan keluarga, gereja, maupun sekolah. Bentuk PAK
pada umumnya adalah sangat penting, mempunyai saling keterkaitan baik keluarga
gereja, maupun sekolah. Penggunaan bentuk-bentuk PAK harus diseimbangkan. Dalam
bentuk PAK di dalam keluarga memiliki peranan yang penting bagi seseorang
karena lingkungan keluargalah yang pertama mengajarkan tentang PAK itu sendiri.
Tetapi gereja juga merupakan salah satu bentuk PAK yang penting bukan hanya
sekedar mengikuti pengajaran gereja, tetapi penerapannya harus terealisasi
dalam kehidupan seseorang, begitupun dalam lingkungan sekolah PAK memiliki
peranan yang cukup penting.
Implikasinya bagi kita sekarang ini adalah ,
kita harus mampu menyelaraskan setiap bentuk PAK yang ada dalam kehidupan kita.
B.
SARAN
Akhirnya dari pengetahuan (atau tujuannya)
adalah untuk memperbaiki kerusakan yang dilakukan orang tua pertama kita dengan
kembali mengenal atau mengetahui Allah dengan benar. Maka dengan demikian, dari
pengetahuan baru itu, kita akan sanggup mengasihi Dia, menjadi serupa seperti
Dia, dengan segala kemampuan terbaik kita, yaitu memiliki nilai-nilai sejati
dalam jiwa kita. Nilai-nilai sejati ini terkait erat dengan iman anugrah surgawi.
Hal inilah yang menghasilkan kesempurnaan yang tertinggi.
DAFTAR PUSTAKA
[1].
Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan
(Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2014)
[2].
Harianto GP, Teologi PAK. (Surabaya: STT Bethany, 2014)
[3].
Tim Kerja BPK & Pokja PGI. Allah Memelihara Ciptaan-Nya. (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2009)
[4]. Robert R. Boehlke ( Jakarta BPK
Gunung Mulia, 2005)
[5].
Ev.
I Putu Ayub Darmawan, M.Pd.
[6].
Tholib Kasan, Dasar-Dasar Pendidikan
(Jakarta Timur, 2009)
[7].
Ibid, (Jakarta Timur, 2009)
[8]. Ibid,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)
[9].
Homrighausen & Dr I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta
BPK Gunung Mulia, 1984)
[10]. Ibid, (Jakarta BPK
Gunung Mulia, 1984)
[11].
Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984)
[12]. Ibid, (Jakarta BPK Gunung
Mulia, 1984)
[1]Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2014), hal 1
[2]Harianto GP, Teologi PAK. (Surabaya: STT
Bethany, 2014), hal 1
[3]Tim
Kerja BPK & Pokja PGI. Allah
Memelihara Ciptaan-Nya. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal 76.
[9]Homrighausen & Dr I.H. Enklaar, Pendidikan
Agama Kristen (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984), hal 144-147
[10]Ibid, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1984),
hal 126-128
[11]Ibid, (Jakarta BPK
Gunung Mulia, 1984, hal 168-169
shalom ijin copas ya kak,,sy sedang mencari contoh literasi teologi PAK:)
BalasHapusBaik sahabatku. Gbu
Hapus